Babad Dermayu (Babad Carbon II)_Bab II


Bab II

Ringkasan Cerita

 

 

1.       Sinom

Pada pupuh ini disampaikan silsilah, dimulai dari Ngabehi Wirasecapa dari Bagelen. Nama-nama yang disebutkan selanjutnya adalah Pangeran Hadi…, Tumenggung Gagak Pernala, Pringgandipura,  Gagak Wirahandaka, Gagak Kumitir, Gagak Wirakusuma, Gagak Singalodraka, Wangsanagara, Wangsayuda, Wiralodra, Tanujaya, Tanujiwa.

Dikisahkan Wiralodra bertapa agar mendapat kemuliaan. Pada malam Jum’at ia mendapat petunjuk.

 

2.       Kinanti

Petunjuk yang didapat Wiralodra adalah agar ia membabat hutan di kali Cimanuk. Wiralodra kemudian berangkat ditemani Ki Tinggil menuju selatan kaki gunung. Setelah tiga tahun berkelana keduanya bertemu dengan Buyut Sidum yang memberi petunjuk mengenai tempat yang dicarinya. Buyut Sidum kemudian menghilang.

Keesokan harinya mereka berjalan hingga tiba di Pasir Kucing dan menemukan kali yang jernih. Wiralodra kemudian mandi sedangkan Ki Tinggil tertidur hingga dua minggu lamanya. Mereka kemudian menuju arah utara dan bertemu dengan Wirasetra. Keduanya beristirahat dan disuguhi makan. Setelah sebulan lamanya keduanya berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah dua bulan keduanya bertemu kembali dengan Ki Sidum yang menyediakannya macam-macam tanaman palawija. Ki Sidum menyamar sehingga keduanya tidak mengenalinya dan terjadi perkelahian karena Ki Sidum pura-pura marah.

Ki Sidum memberi petunjuk bahwa tempat yang dicari mereka sudah hampir dekat. Wiralodra diperintahkan untuk menyebrang. Bila menemukan kijang mas bermata intan harus dikejar. Bila kijang itu menghilang maka itulah tempat yang dituju. Keduanya bertemu dengan macam-macam binatang buas. Ketika bertemu dengan ular maka ular itu dipukulnya dan berubah menjadi sungai. Lalu ia menemukan … yang kemudian berubah menjadi wanita cantik.

 

3.       Sinom

Wiralodra menghampiri perempuan tersebut, yang mengaku dirinya bernama Larawana, dan ia belum menikah. Keduanya kemudian berkelahi dan Larawana berubah menjadi kijang mas. Wiralodra dan Ki Tinggil kemudian mengejar kijang mas tersebut menuju arah timur dan berhenti di sungai Cimanuk. Kemudian terdengar petunjuk bahwa tempat itulah yang mereka cari.

Wiralodra kemudian membabat hutan sehingga berbagai binatang buas dan makhluk halus melarikan diri. Hal itu membuat Ki Gede Muara marah dan terjadi pertarungan.

Ki Tinggil lalu membaca mantra sehingga para siluman menjadi lumpuh. Saat itu datang utusan dari Tunjung Mas, yang mengatakan tidak boleh mengganggu Wiralodra karena keturunan Majapahit. Setelah itu tidak ada gangguan lagi sehingga keduanya dapat membuat pondokan dan berkebun dengan nyaman.

Lama kelamaan banyak orang berdatangan dan Ki Tinggil dijadikan lurah. Setelah tiga tahun Wiralodra kembali ke Bagelen menemui ayah dan ibunya. Ternyata ayahnya mengangkat Wiralodra untuk memimpin Bagelen dibantu adik-adiknya, yaitu Wangsayuda, Tanujaya, Wangsanagari, dan Tanujaya.

Dikisahkan Ki Tinggil yang menjadi lurah mengangkat beberapa orang untuk membantunya, yaitu Bayantaka, Jayantaka, Surantaka, Wanaswara, Puspahita, dan Ki Pulana.

Tiba-tiba datang perempuan cantik yang bernama Nyi Hindang Darma ke kampung Ki Tinggil. Nyi Hindang Darma diizinkan untuk membuat pondokan di tempat itu. Ki Tinggil mempunyai rencana untuk memberikan Nyi Hindang agar dijadikan istri oleh Wiralodra.

Keberadaan Nyi Hindang Darma sampai ke telinga Pangeran Palembang. Pangeran Palembnang dengan murid-muridnya datang hendak menyerang Nyi Hindang tetapi berubah menjadi terpesona oleh kecantikan Nyi Hindang. Lalu terjadi perkelahian antara Nyi Hindang dengan Pangeran Palembang. Karena kesaktiannya, Nyi Hindang dapat mengalahkan musuhnya hingga tewas.

Ki Tinggil melaporkan kejadian tersebut kepada Wiralodra di Bagelen. Ia juga menyarankan agar Wiralodra dengan adik-adiknya pergi ke pondokan yang mereka buat. Mereka kemudian berangkat. Sesampainya di pondokan, Ki Pulaha diminta untuk mengundang Nyi Hindang.

 

4.       Kinanti

Nyi Hindang memenuhi undangan Wiralodra. Semua terpesona melihat kecantikannya. Atas permintaan Wiralodra Nyi Hindang menceritakan pertarungannya dengan Pangeran Palembang. Wiralodra dan adik-adiknya bertarung dengan Nyi Hindang setelah terlebih dahulu mengadakan perjanjian. Yang kalah menjadi pembantu yang menang. Keempat adik Wiralodra sudah kalah.

 

5.       Durma

Wiralodra dan Nyi Hindang masuk hutan untuk bertarung. Karena tidak bias mengalahkan Wiralodra, Nyi Hindang lalu menghilang dan berubah wujud berkali-kali. Wiralodra tidak berhasil menangkap Nyi Hindang. Ia mendengar suara Nyi Hindang agar memberi nama tempat itu menjadi Darmayu.

Wiralodra melanjutkan perjalanan menuju barat dan sampai di Pegaden. Setelah tiga malam kemudian kembali ke Cimanuk. Sesampainya di Cimanuk ia dikejutkan oleh kedatangan pasukan Pangeran Haryakuningan dari Gerage. Ia diperintahkan Sultan untuk memeriksa orang yang  membuat negara.  Terjadi pertarungan antara Arya Kumuning dengan Wiralodra. Kuda Arya Kumuning tunduk kepada Wiralodra dan membawa Arya Kumuning ke Kuningan. Setelah sampai kuda itu melepaskan Arya Kumuning lalu melarikan diri ke hutan.

Patih Kuningan yang bernama Dipasarah lalu diperintahkan untuk mengabdi kepada Wiralodra.

 

6.       Dangdanggula

Wiralodra kembali kepada pasukannya. Perkampungan yang dibuat tersebut kemudian diubah menjadi negara dan diberi nama Darmayu dan diadakan pesta selamatan. Adik-adik Wiralodra kemudian kembali ke Bagelen.

 

7.       Durma

Datang buronan dari Jepara yang akan merebut negara, yaitu Watuhaji dan pasukannya.  Wiralodra berhadapan dengan Watuhaji. Keduanya sama kuatnya. Wiralodra mengeluarkan kesaktiannya, begitu pula Watuhaji.

Lama-kelamaan Darmayu menjadi negara yang ramai, banyak pendatang dari Sumatra, Palembang, Bogor, dan Karawang. Pasukan dari Bogor dan Karawang datang karena terdesak oleh pasukan Belanda.  Mereka mempersembahkan harta kepada Wiralodra sehingga Wiralodra menjadi sangat kaya.

 

8.      Dangdanggula

Watuhaji dan pasukannya seharusnya dikirimkan ke Mataram untuk dihukum mati, tetapi Wiralodra membiarkannya tetap hidup dan diperintahkan untuk menuju gunung. Pasukan Watuhaji menjadi perampok.

Wiralodra memiliki anak yang bernama Sutamerta, Wirapati, Nyayu Hinten, Drayantaka. Setelah Wiralodra meninggal dunia digantikan oleh Wirapati dan disebut Wiralodra II. Wiralodra II memiliki dua orang istri dan 13 putra. Nama putranya yaitu Radén Kowi, Radén Timur, Radén Sumerdi (Samerdi), Radén Wirantaka, Radén Wiratmaja, Hajeng Raksawiwangsa,  Hajeng Sutamerta, Hajeng Nayawangsa, Hajeng Wiralaksan[n]a, Hajeng Hadiwangsa, Hajeng Wilastro, Hajeng Puspataruna, dan Hajeng Patranaya. Nyayu Hinten menikah dengan Werdinata, saudara Wirapati. Anaknya diberi nama Raden Wringin  Hanom.

Wirapati dimintai tolong oleh Dalem Sumedang untuk menghadapi padukan Dalem Ciamis dan Kuningan. Wirapati (Wiralodra II) dengan Raden Wringin  Hanom dapat mengalahkan musuh Dalem Sumedang. Dalem Sumedang menyatakan bahwa Sumedang disatukan dengan Indramayu, termasuk pesisir Kandanghaur.

Ketika Wiralodra II meninggal dunia digantikan oleh Raden Sawerdi (Wiralodra III). Ia mempunyai putra empat orang, yaitu Radén Benggala, Radén Benggali, Hajeng Singawijaya, dan Hajeng Raksawinata. Ketika Wiralodra III meninggal dunia Benggali menginginkan jabatan. Tetapi berdasarkan ketentuan yang menggantikan harus Benggala. Benggali mengancam sehingga proses pergantian bupati tertunda lima bulan. Keputusan dari Betawi memperkuat bahwa yang menjadi pengganti adalah Benggala (Wiralodra IV).

Benggala (Wiralodra IV) mempunyai delapan orang anak, yaitu laki-laki Radén Lahut, Radén Ganar (Gandur), Hajeng Parwawinata, Radén Solo alias Kartawijaya, Hajeng Nahiyasta, Hajeng Gembrak, Hajeng Tayub, dan Hajeng Moka.

Nyai Moka pekerjaannya mengaji, sehingga diadakan tempat pengajian untuk keluarga dalem. Kiai mau mengajarkan mengaji asal anaknya yang bernama Kartawijaya diterima di kadaleman. Kartawijaya kemudian diangkat menjadi mentri di Panjunan.

Bupati di Panjunan digantikan oleh Raden Semangun, putra Singalodra. Banyak terjadi perampokan sehingga rakyat banyak merasa tidak tenteram. Para perampok itu berkumpul di Bantarjati dan berasal dari Biyawak Jatitujuh, Kulinyar, dan Pasiripis. Jumlahnya sekitar 700 orang, dipimpin oleh Bagus Kandar, Bagus Rangin, Surapersanda, Bagus Leja, dan Bagus Seling. Mereka bersiap menyerang Darmayu. Lalu dilakukan penyerangan. Prajurit Darmayu terkejut karena ada perampok perempuan, yaitu Ciliwidara. Ciliwidara bisa melayang di angkasa sehingga tidak bisa dikalahkan. Saat itu prajurit Darmayu dipimpin oleh Kartawijaya.

Kartawijaya melaporkan kejadian itu kepada Hastrasuta. Kartawijaya berhasil mengalahkan Ciliwidara. Ciliwidara kemudian menghilang. Lalu  Kartawijaya memerintahkan agar menjaga tempat menghilangnya Kartawijaya.

 

9.       Sinom

Hastrasuta dan Kartawijaya memperbincangkan kesaktian Ciliwidara.

Pada suatu hari, ketika Wiralodra sedang berbincang dengan Hastrasuta, datang Nyi Jaya menyampaikan berita bahwa di Bantarjati sekitar seribu orang berkumpul hendak menyerang Darmayu. Karena itu pasukan dipersiapkan untuk menyerang perampok. Mereka kemudian berangkat menuju Bantarjati.

 

10.   Pangkur

Terjadi pertempuran antara pihak Bagus Rangin dan Hastrasuta. Setelah berhasil mengalahkan para perampok sehingga banyak yang tewas, Hastrasuta meninggal oleh panah Ki Serit. Perampok menyamar sehingga berhasil mendekati dan menyerang perkemahan prajurit Darmayu.

Sekitar 3000 perampok yang dipimpin Bagus Rangin kemudian menyerang Darmayu. Sepanjang perjalanan mereka merampok. Di Lobener mereka mendapat perlawanan dari orang Cina sehingga banyak perampok yang melarikan diri. Surapersanda merayu orang Cina agar mereka dibiarkan, sehingga para perampok itu tiba di Darmayu.

Pada tahun 1808 Dalem Darmayu menyampaikan surat kepada Gubernur Jendral di Betawi, isinya meminta bantuan. Dari Betawi datang pasukan yang dipimpin oleh Tuan Postur. Mereka pura-pura akan memberikan jabatan kepada para perampok. Bagus Rangin dan pasukannya mempercayainya. Pihak Belanda mengirim surat kepada Dalem Darmayu agar menangkap perampok yang saat itu sedang berada di Mayahan.

 

11.    Durma

Prajurit Darmayu datang dan mengalahkan para perampok. Mereka diikat dan disiksa. Yang berhasil ditangkap dibawa ke Betawi untuk dipenjarakan, tetapi sebagian lainnya melarikan diri.

 

12.    Asmarandana

Bagus Rangin dan Bagus Leja bersembunyi di hutan bersama anak dan istrinya. Mereka sampai di Tegal Slawi dan membuat pesanggrahan. Bagus Rangin mengirim surat tantangan kepada Wangsakerti. Wangsakerti mengirimkan utusannya. Terjadi pertarungan antara kedua belah pihak. Pihak Bagus Rangin banyak yang tewas. Ketika pihak Wangsakerti hampir kalah datang bantuan dari Setrokusumah.

 

13.    Durma

Terjadi pertempuran antara pasukan Bagus Rangin dangan pasukan Jaka Patuwakan, anak Wangsakerti. Bagus Rangin kalah dan melarikan diri ke Karawang, sedangkan Bagus Leja dan Bagus Kandar dikirim ke Betawi. Ketika di laut Bagus Leja dan Bagus Kandar melompat dan melarikan diri ke hutan.

 

14.    Sinom

Para mantri yang ditugaskan mengawal tahanan menjadi kebingungan. Kartawijaya dan Raden Welang lalu hendak melapor kepada Sinuhun. Di Palimanan mereka melihat serdadu yang menjaga sumur yang ditutup rapat. Keduanya memaksa sehingga diserang serdadu tetapi tidak berhasil ditangkap.

Sesampainya di Garage mereka melaporkan hilangnya para tahanan. Komandan yang ada di Palimanan lalu mengirim surat kepada Gubernur Jendral di Betawi.

Gubernur Jendral marah dan memerintahkan empat puluh orang serdadu untuk menyerang Cirebon. Sultan Cirebon memberikan senjata pusakanya kepada Kartawijaya dan Welang untuk menghadapi Gubernur Jendral dan pasukannya.

 

15.    Pangkur

Kartawijaya dan Welang sudah tiba di Betawi. Keduanya dimarahi dan dicaci. Kartawijaya dan Welang dihukum dan dipasangi lima lusin meriam. Kiai Kuwu tidak tega melihatnya. Ia kemudian merasuki dan mengamuk sehingga pasukan jendral banyak yang tewas akibat bertarung dengan teman sendiri. Raden Welang tewas ditembak menggunakan senapan yang diisi dengan peluru yang terbuat dari intan.

Keris pusaka menghilang dan Kartawijaya tewas ditembak. Mayatnya menghilang. Gubernur Jendral marah dan mengirim pasukan ke Cirebon sebanyak tiga kapal, agar Cirebon mengganti kerugian Belanda.

Gubernur Jendral datang ke Mataram dan berpura-pura sedih. Sambil menangis ia menceritakan pertempuran yang merugikan pihaknya. Sultan lalu memerintahkan para tamtamanya untuk menyerang Cirebon. Cirebon diserahkan kepada Belanda.

 

16.    Kasmaran

Gubernur Jendral dengan pasukannya kembali ke Batawi. Ia memanggil Wiralodra agar mengganti kerugian Belanda sejumlah Rp 11.030. Bupati tidak memiliki uang sebanyak itu sehingga Darmayu diserahkan kepada Belanda pada tahun 1610. Bupati meninggal dunia. Anaknya yaitu Raden Krestal (Wiralodra). Wiralodra memiliki tujuh orang anak, yaitu Radén Marngal[l]i Wirakusuma yang menjadi demang Bebersindang, Nyayu Wiradibrata, Nyayu Hempuh, Nyayu Pungsi, Nyayu Lotama, dan Hanjani.

Bupati merasa bingung karena mertuanya menjadi perampok. Ia lalu mengirim surat ke Betawi. Tidak lama datang pasukan sehingga perampok ditangkapi.

Singatruna kemudian diangkat menjadi wedana Jatibarang. Ia terkenal bijaksana sehingga disegani rakyatnya. Ia memiliki lima orang putra, yaitu Patimah, Nyayu Juleka, Brataleksana, Bratasentana, dan Bratasuwita.

Raden Rangga memiliki dua orang anak, yaitu Raden Mardada, Raden Wiramadengda, dan Nyi Sumbaga.

Kalektor memiliki lima orang anak, yaitu Hardiwijaya, Sudirah, dan Nyai Juminah. Sedangkan Kartawijaya hanya memiliki satu orang anak, yaitu Raden Karta Kusuma. Ratu Hatma memiliki tiga orang anak, yaitu Biska, dan Kertadiprana. Kertadiprana mempunyai anak bernama Kertahudaka, Mangundria, Muhadapan, Nyayu Jenikuwu, dan Kertahatmaja.

Babad Dermayu (Babad Carbon II)_Bab I


Bab I

Pendahuluan

 

 

1.1 Identifikasi Naskah

 

1.

Judul Naskah

:

Babad Dermayu (Babad Carbon II)

Kata Pengantar (tranliterasi NAskah 2008 : Manasa)


Kata Pengantar

Puji dan syukur disampaikan kepada Allah, karena hanya atas kodrat dan iradat-Nya  kajian dasar dua puluh sembilan naskah koleksi Museum Negeri Sri Baduga Bandung, Jawa Barat untuk program transliterasi dan terjemahan 2008 dapat diselesaikan dengan baik. Dengan selesainya kegiatan ini, dua puluh sembilan naskah karya tulis peninggalan masyarakat Sunda masa silam koleksi museum ini terselamatkan, dan dengan selesainya transliterasi dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia, diharapkan akan memberi kemudahan  membaca dan mema-haminya bagi pihak-pihak yang  tidak memahami teks dalam aksara aslinya.

Banyak kesulitan teknis yang dihadapi dalam kegiatan ini. Pertama, karena kondisi naskah yang telah mengalami kerusakan, sehingga banyak bagian yang hilang dan aksaranya sudah kurang jelas. Kedua, aksaranya  tidak dikenal oleh masyarakat umum, yaitu  aksara Cacarakan dan aksara Arab. Ketiga, dari segi bahasanya, banyak kata yang sudah tidak dikenali dalam kehidupan masyarakat Sunda saat ini, seperti bahasa Arab, dan bahasa Jawa. Keempat, kesulitan dalam penerjemahan, lebih-lebih pada teks yang ditulis dalam bentuk pupuh (puisi) yang bahasanya  keterikatan dengan ketentuan pupuh, sehingga banyak struktur kalimat yang berbeda dengan struktur bahasa baku. Namun, alhamdulillah semua ini dapat diatasi dengan upaya keras, dan ketekunan tim peneliti.


Kerjasama yang baik antara Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara Cabang Bandung (Jawa Barat), akan dapat mengatasi berbagai hal yang berkaitan dengan pelestarian serta pemeliharaan fisik dan kandungan peninggalan tertulis yang berharga ini, khususnya yang berkaitan dengan naskah-naskah koleksi Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga Bandung.

 

Bandung,  Juli 2008

Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Cabang Bandung (Jawa Barat)

 

 

 

 

 

Dr. H. I. Syarief Hidayat, MS.



Sambutan Kepala Balai Pengelolaan Museum Sri Baduga


Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Illahi karena telah dapat menyelesaikan salah satu program kerja kami pada tahun anggaran 2008, yaitu “Transliterasi, Terjemahan, dan Kajian Teks Naskah Kuno” yang berjumlah 25 buah.Kegiatan seperti ini penting untuk dilaksanakan mengingat isi naskah kuno sangat bermanfaat sebagai sumber data dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan penulisan. Umumnya naskah-naskah kuno ditulis dengan menggunakan huruf dan bahasa kuno yang isinya merupakan catatan terdahulu yang menyiratkan sumber-sumber atau ajaran hidup bagi generasi berikutnya.Upaya yang kami lakukan ini tentunya masih banyak kekurangan, namun kami berharap mudah-mudahan dapat bermanfaat untuk masyarakat luas.

Akhirnya tiada kata kami ucapkan terima kasih kepada pengkaji disertai harapan mudah-mudahan dapat meningkatkan hasil kerja yang yang lebih baik.

 

Bandung, Juli 2008

Kepala Balai Pengelolaan

Museum Negeri Sri Baduga,

 

 

Wawan Ridwan, SE., M.M.

 NIP 480067357

Sambutan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Barat


Masyarakat sebagai pencipta dan pendukung kebudayaan, sepanjang masa tidak terhenti untuk berupaya terus menyempurnakan kebudayaan. Manusia memiliki alat yang ampuh untuk menunjukkan kekayaan hidupnya, yaitu bahasa. Melalui bahasa seluruh memori dan pengalaman hidupnya dapat direkam dan diendapkan. Kemajuan umat manusia lebih meningkat dengan cepat setelah mengenal tulisan, kecakapan menulis itulah manusia mampu menyimpan buah pikiran dan pengalamannya sehingga dapat ditransformasikan ke generasi selanjutnya.

Naskah kuno sebagai salah satu hasil karya manusia dalam bentuk tulisan, telah mampu merekam kepandaian masyarakat sesuai jamannya. Di dalamnya terkandung nilai-nilai budaya yang sangat luhur serta berguna bagi hidup dan kehidupan. Selain dari itu, buah pikiran, hak cipta, atau nilai-nilai yang ada di dalamnya bersifat abadi dan menjadi bahan perhatian bagi para peminat dengan berbagai tujuan.

Naskah kuno umumnya ditulis tangan dengan menggunakan bahan-bahan yang rentan rusak. Rusak atau musnahnya naskah tersebut akan mengakibatkan musnahnya isi serta nilai-nilai budaya yang terkandung dalam isi teks naskah. Oleh sebab itu upaya pengalihaksaraan dan pengalihbahasaan atau disebut “Transliterasi dan Terjemahan” merupakan upaya yang tepat terutama dalam rangka pembinaan dan pengambangan kebudayaan nasional sesuai dengan pasal 32 UUD 1945.

Balai Pengelolaan Museum Sri Baduga, melalui anggaran “Kegiatan Transliterasi dan Deskripsi Naskah Kuno tahun 2008” melaksanakan transliterasi dan terjemahan sebanyak 25 buah naskah kuno yang dilaksanakan oleh para filolog, yang dengan keahliannya telah berupaya semaksimal mungkin melaksanakan alih aksara dan alih bahasa teks-teks naskah kuno tersebut sehingga betul-betul bermanfaat untuk kepentingan pelestarian dan pengembangan ilmu pengetahuan maupun budaya dan pariwisata. Tentu dalam pelaksanaannya masih banyak kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran yang konstruktif sangat kami nantikan.

Akhirnya kami ucapkan terimakasih kepada penggaran atas segala ketekunan, perhatian, pengertian, dan kerjasamanya yang sudah terjalin dengan baik.

 

 

Bandung, Juli 2008

Kepala Dinas Kebudayaan

dan Pariwisata Propinsi jawa Barat,

 

 

Drs. H. I. Budhyana, M.Si.

NIP 48081302